PSW Jateng Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa dan Negara Menuju Masyarakat yang Adil dan Makmur, Sadar Fafirruu Ilallooh Wa Rosuulihi SAW

Kunci Membentuk Keharmonisan Rumah Tangga Sangatlah Penting

4 min read

Pernikahan dan Rumah Tangga Muallif Sholawat Wahidiyah RA
Keharmonisan Rumah Tangga – Seperti apakah Kunci Membentuk Keharmonisan Rumah TanggaRumah Tangga Harmonis Menurut Islam, Rumah Tangga Harmonis Dalam Islam, Rumah Tangga Harmonis Dan Bahagia, Rumah Tangga Harmonis Adalah, Rumah Tangga Harmonis Seperti Apa, Rumah Tangga Harmonis Artis, Rumah Tangga Harmonis Tips, Tips Rumah Tangga Harmonis Menurut Islam, Rahasia Rumah Tangga Harmonis. 
Dalam kesempatan kali ini akan kami fokuskan pada Kunci Membentuk Keharmonisan Rumah Tangga sebagaimana yang telah disampaikan beliau Bapak K. Ach. Sholihuddin Mahfudz. S.Sos, Malang, dalam Buletin Kembali Edisi 8 yaitu sebagai berikut:

Kunci Membentuk Keharmonisan Rumah Tangga

Keharmonisan Rumah Tangga – Perkawinan adalah suatu hal yang penting dalam pergaulan yang sempurna dan diridloi oleh Allah SWT, dan dari sanalah terwujudnya rumah tangga yang bahagia mawaddatan wa rahmah yang pada gilirannya nanti akan tercapai sebuah keluarga bahagia dan kekal.

Tentunya tidak ada seorangpun yang menginginkan rumah tangganya berantakan, walaupun menghadapi berbagai liku-liku kehidupan yang penuh cobaan dan tantangan.
Pertalian keluarga yang ditempuh dengan lembaga pernikahan secara sah, adalah merupakan seteguh-teguh pertalian dalam kehidupan manusia. baik antara suami istri dan turunan, maupun keluarga/famili kedua belah pihak. Betapa tidak. 
 
Oleh karena baiknya pergaulan antara suami istri, saling kasih-mengasihi, paling tidak sedikit banyak akan berpengaruh kebaikan itu kepada semua famili dari kedua belah pihak, sehingga mereka menjadi seiya sekata dalam segala urusan.
 
Mempertahankan keberadaan suatu keluarga dalam mengarungi bahtera kehidupan, tentunya tidak selamanya berjalan mulus tanpa suatu hambatan. Banyak kerikil-kerikil yang dapat mem porak – porandakan eksistensi lembaga pernikahan. Misalnya terjadinya percekcokan, ia merupakan tanda ketidakharmonisan hubungan intern anggotanya.
Keharmonisan Rumah Tangga
 
Tetapi ada juga sebuah rumah tangga yang nampaknya tidak pernah mengalami percekcokan (silang pendapat), namun hanya berupa ketentraman palsu, karena ada sesuatu problema yang terpendam dalam hubungan antara suami istri. Percekcokan bisa muncul kapan saja. Misalnya terjadi perbedaan pendapat, masalah anak, masalah ekonomi, kecemburuan dari salah satu pihak, dan sebagainya.

Sebenarnya sebuah perkawinan (keluarga) dapat diselamatkan, bilamana pasangan tersebut memiliki sikap yang benar dan tepat dalam membina keharmonisan rumah tangganya. Di antara kunci utama untuk itu adalah; saling pengertian, saling menghormati, saling membutuhkan, keterbukaan, menghindari terjadinya percekcokan, serta kesabaran yang ditopang oleh keimanan

1. Saling pengertian.

Seseorang harus menerima segala kekurangan maupun kelebihan pasangannya, walaupun akan mengesalkan hati Namun. demi terselenggaranya kebahagiaan rumah tangga, kita harus menerima dan bersikap lapang dada bagi tercapainya kebahagiaan bersama Masing-masing harus bisa saling melengkapi dan mengembangkan dirinya.

Sebelum memasuki perkawinan, biasanya yang senantiasa terbayang adalah masa-masa indah. Suatu kehidupan baru yang penuh kesenangan dan kemesraan sebagaiamana yang biasa ditemui dalam masa pacaran Maka apabila kenyataan setelah nikah tidak demikian adanya. kekecewaan-lah yang akan dirasakan

Masalah pacaran memang bukanlah satu-satunya sarana yang ampuh untuk mengetahui pribadi pasangan kita secara mendalam, karena sering diwarnai kepura-puraan Barulah setelah memasuki pernikahan, pribadi yang sebenarnya dari pasangan kita akan terbuka kedoknya Oleh karena itu kita dituntut supaya siap menghadapi segala kekecewaan yang mungkin dialami setelah nikah dengan sikap saling pengertian dan mau menerima apa adanya dari masing-masing pihak.

2. Saling menghargai

Salah satu rintangan besar yang bisa berakibat pada perceraian adalah apabila tidak ada suasana kerja sama, atau “menolak” pasangannya dan tidak mau mengalah karena mempertahankan “ke-akuannya”. Juga tidak mau menerima pendapat pasangannya dalam menentukan suatu keputusan.
 
Karena itu, untuk keharmonisan keluarga diperlukan sikap saling mau menghargai serta memupuk rasa tanggung jawab untuk kerja sama demi terwujudnya suatu perkawinan yang harmonis.

3. Saling membutuhkan

Sikap saling membutuhkan merupakan kunci perekat untuk keharmonisan hubungan suami istri dalam rumah tangga. Suami akan merasa senang dan tenang berada di dalam rumah apabila sang istri mengerti akan kebutuhannya Demikian pula sang istri akan merasa bahagia dan damai bila sang suami memenuhi segala keperluannya.
 
Banyak terjadi perselingkuhan dan penyelewengan di luar rumah, atau istilah barunya adanya “WIL dan PIL”, itu sebagai manifestasi mencari kebutuhan yang tidak didapatkan di dalam rumah antara suami istri Apabila dalam rumah tangga sudah diwarnai adanya rasa saling tidak membutuhkan dan tidak memberi dan mengerti akan kebutuhan masing-masing, maka sudah dapat dipastikan keretakan dan ketidak-harmonisan yang akan muncul.

Saling membutuhkan bukan berarti hanya saling menuntut hak untuk memenuhi kebutuhan masing-masing secara materi Lebih dari itu, harus ada suatu ikatan perasaan dan emosi bahwa kedua belah pihak merasa tidak akan bisa sempurna dan damai tanpa kehadiran yang lain. 

Saling membutuhkan Dalam Al Qur’an

Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 187 menegaskan: 
 
Artinya Kurang lebih : ” istri-istrimu itu bagaikan pakaian bagi kamu sekalian, dan kamu sekalian bagaikan pakaian bagi istri-istri kamu sekalian”.

Maksudnya; tumbuhkan dalam hatimu bahwa kamu butuh terhadap istrimu itu bagaikan kamu membutuhkan pakaian untuk menutup aurat dan keindahan dirimu. Sebaliknya istrimu akan membutuhkan kamu sebagaiamana ia membutuhkan pakaian untuk menutup aurat, kecantikan dan keindahan. Tidak akan pernah terjadi bahwa pakaian itu membutuhkan kepada orang yang memakai. Kita pergi ke toko, membeli pakaian itu karena kita butuh terhadap pakaian, bukan pakaian yang butuh kepada kita untuk dipakai.

Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga antara suami istri. Suami akan mencari, menghargai, menjaga, melindungi dan merawat istrinya, karena istrinya adalah pakaian untuk dirinya. Sebaliknya, sang istri juga akan merawat, menjaga memperindah dan menghormati suaminya, karena ia sebagai pakaian untuk dirinya. Suami merasa butuh kepada istri, dan istri juga merasa butuh kepada suaminya. Keduanya harus merasa membutuhkan“, bukan perasaan dibutuhkan. Apabila salah satu pihak sudah ada yang merasa “dibutuhkan”, bukan merasa “membutuhkan”, maka sifat angkuh, sombong dan jual mahal yang akan tampak pada prilaku masing-masing. Dan disitulah awal kehancuran rumah tangganya.

4. Sikap keterbukaan

Sikap keterbukaan sangat penting untuk menunjang keharmonisan rumah tangga. Antara suami istri seyogyanya jangan sampai terjadi sikap tidak mau berterus terang atau saling tertutup. Hal ini bisa menimbulkan perasaan saling curiga yang pada akhirnya terjadilah kecemburuan. Dan kecemburuan yang berlarut-larut dapat berakibat fatal sebagai sumber percekcokan serta pertengkaran. Di sinilah diperlukan sikap keterbukaan untuk menghindari terjadinya kecemburuan dan saling curiga.

5. Hindari Percekcokan.

Sedapat mungkin hindarilah terjadinya percekcokan. Kalaupun toh terjadi percekcokan, sebaiknya janganlah diarahkan untuk saling mengalahkan. Tapi untuk mencari kemaslahatan bersama.

Ketika pasangan anda mulai terpancing emosinya, jangan sekali-kali mencoba menyiram minyak pada api yang sedang menyala; dalam arti mencoba menantang dan mengomentari perkataannya ketika sedang penuh gejolak emosi. Jika perlu hadapi dengan humor atau diam. Tapi sikap ini pun harus berhati-hati menerap-kannya, karena bisa bisa dia salah tanggap dan justru merasa disepelekan atau tersinggung.

Nah, apabila suasana telah kembali dingin, adakanlah pendekatan melalui dialog untuk meluruskan segala kesalahpahaman secara santai dan penuh keakraban. Pertama kali pahamilah keinginan atau pendapat pasangan anda kemudian akuilah dengan sportif kalau memang anda “salah”, lalu minta maaflah.

Hal penting yang perlu dijaga adalah jangan sampai terjadi percekcokan (pertengkaran) di hadapan anak-anak. Sebab bisa berakibat rusaknya perkembangan jiwa anak.

6 Keimanan dan kesabaran

Jika dalam menghadapi masalah keluarga kita tidak dapat menerimanya dengan jiwa keimanan, ketabahan dan kesabaran, maka keutuhan keluarga akan terancam. Namun bukan berarti kita pasrah begitu saja, lalu tidak melakukan usaha atau ikhtiar untuk merubah keadaan keluarga. Ikhtiar adalah suatu keharusan dengan niat dan tujuan karena Allah (Lillah) agar dalam menghadapi segala permasalahan kita selalu berada dalam lindungan dan bimbingan-Nya.

Demikianlah kunci untuk mencapai keharmonisan keluarga bagi pasangan suami istri serta anak-anak lebih lengkapnya Kunci Membentuk Keharmonisan Rumah Tangga. Dan kepada-Nya Yakni Kepada Allah Wa Rosuulihii Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam, kita berharap semoga kita dijauhkan dari malapetaka dalam keluarga yang sangat kita harapkan Amin.
PSW Jateng Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa dan Negara Menuju Masyarakat yang Adil dan Makmur, Sadar Fafirruu Ilallooh Wa Rosuulihi SAW