The Art of Starting to Mujahadah (Seni Mengawali Mujahadah)

Mujahadah secara lughowi memiliki arti “sungguh-sungguh”, merupakan sebuah kata sifat yang bermakna serius menjalani sesuatu dengan sepenuh hati serta istiqomah di dalamnya. Kata sifat ini bersifat subjektif, tingkat kesungguhan seseorang akan berbeda bergantung pada ilmu dan kondisi psikis seseorang. Adapun pendapat lain mujahadah menurut arti lughowi, syar’i, dan istilah ahli hakikat sebagaimana dimuat dalam kitab Jami’ul Ushul Fil-Auliya(1), hal 221 :

أَمَّاالْمُجَاهَدَةُ فَهيَ فِي اللُّغَةِ الْمُحَارَبَةُ وَفِي الشَّرْعِ مُحَارَبَةُ أَعْدَآءِ اللهِ، وَفِي اصْطـِلاَحِ أَهْلِ الْحَـقِـيْقَةِ مُحَــارَبَةُ النَّفـْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَتَحْمِيْلُهَا مَا شَقَّ عَلَيْـهَا ِممَّا هُوَ مَطْلـُوْبٌ شَرْعًا. وَقَالَ بَعْضُـهُمْ : الْمُـجَاهَدَةُ مُخَالَـفَةُ النَّفْسِ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : المـُجَاهَدَةُ مَنْعُ النَّفْسِ عَنِ الْمَـأْلُوْفَاتِ.

“Arti mujahadah menurut bahasa adalah perang, menurut syara’ adalah perang melawan musuh-musuh Alloh, dan menurut istilah ahli hakikat adalah memerangi nafsu amarah bis-suu’(2) dan memberi beban kepadanya untuk melakukan sesuatu yang berat baginya yang sesuai dengan aturan syara’ (agama). Sebagian Ulama’ mengatakan : “Mujahadah adalah tidak menuruti kehendak nafsu”, dan ada lagi yang mengatakan : “Mujahadah adalah menahan nafsu dari kesenangannya”.

Mujahadah dalam Wahidiyah atinya berjuang, bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu untuk diarahkan Fafirru Ilaloohi Wa Rasuulihi shollaallohu ‘Alaihi Wassalam
Mujahadah adalah upaya mengenal Alloh melalui pendekatan bathiniyah. Ibarat remaja yang dilanda asmara, setiap pengamal memiliki cerita cinta pada pandangan pertama yang beragam untuk bermujahadah. Getaran bathiniyah seseorang dapat naik turun, sehingga berpengaruh pada gaya bermujahadah. Dalam perkembangannya, dapat diamati beberapa karakter pengamal dalam mengawali mujahadah yang kami sebut “the art of starting to mujahadah” atau “seni mengawali mujahadah”. Diluar factor hidayah, sikap disiplin melalui latihan dan pendalaman ilmu menjadi faktor utama seseorang “gethol” atau istiqomah dalam bermujahadah. Hal ini cukup menarik diamati dan bisa menjadi gambaran diri seperti apa karakter kita dalam bermujahadah. Tidak dibenarkan karakter ini mencerminkan level kedekatan seseorang kepada Allah Warrosulihi SAW, akan tetapi barang kali bisa menjadi evaluasi diri agar kita selalu mawas diri dalam bermunajat kepada Alloh.

Start Early, Start Now
Sholawat Wahidiyah merupakan amalan yang berfaedah menjernihkan hati dan ma’rifat sadar kepada Alloh SWT Wa Rasullihi SAW. Ketika bathin seseorang sudah melekat dengan sholawat wahidiyah, bermujahadah telah menjadi barang konsumtif prioritas bagi orang tersebut. Pengamal tipe ini dalam bermujahadah selalu menerapkan sistem “start early, start now” atau “ mulai sedini mungkin, mulai sekarang”. Pengamal cenderung memulai lebih awal untuk memenuhi tuntutan bathiyah. Memulai sedini mungkin, sesegera mungkin tanpa mengenal kata “besok” dan “nanti” dengan mainset “ the power of now” yaitu kekuatan untuk langsung bertindak, bukan menunda. Hal ini sejalan dengan firman Alloh pada QS Ali Imron [3] : 133 sebagai berikut :

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
(آل عمران:١٣٣)

Artinya : “Bersegeralah kalian menuju ampunanTuhan kalian dan Syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”
Ayat ini ditegaskan oleh Ibnu Al Jauzi dalam nasehatya kepada para murid-muridnya untuk menghindari rasa malas dan sikap menunda nunda amal peribadatan yang berbunyi “ jangan sekali-kali mengulur waktu, karena ia merupakan tentara iblis yang paling besar”. Tentu ini menjadi nasehat yang menikam hati para murid-muridnya, juga kepada kita semua untuk tidak menunda-munda melaksanakan peribadann kepada Allah terlebih dalam bermujahadah.

Start Smoothly
Menjalin hubungan dengan Allah SWT perlu dilakukan penetrapan iman dan takwa yang setepat-tepanya. Tingkah laku dan ucapan perlu jaga sebaik-baiknya dengan senantiasa memohon ridho agar selalu berada dalam bimbingan-Nya. Saat jiwa dan raga ini kita kembalikan kepada Allah SWT, tidaklah waktu ini serasa melambat, hening seketika mengubah suasana, detak jantung seakan berdetak lebih lembut dari biasanya, seolah tubuh ini kaku tak mampu berucap meski dalam sekecap.
Mujahadah adalah manisfestasi kebutuhan hati akan ketenangan jiwa dan perasaan rindu pada Robb-Nya. Semakin rindu sesorang kepada Tuhanya maka semakin ia memelas kasih “ngratess” mengharap jatuh dalam pelukan iman dan takwa. Perasaan yang begitu dalam membawanya jatuh pada samudra keaguangan-Nya, hingga sistem kinerja otak menurunkan fungsi-fungsi syaraf setiap bagian tubuh kita seakan memberi tanda turut sujud menyembah kepada-Nya. Hingga akhirnya kita sadari bahwa tiada daya dan upaya melainkan atas tittah Allah SWT.

Start with Your Energy
Rejeki yang paling tidak disadari oleh manusia pada umumnya adalah kekayaan energy pada diri mereka. Pada dasarnya setiap manusia dikarunia energi yang tiada batas, hal ini tidak hanya semata-mata dipengaruhi oleh sumber energi dhohir seperti makan dan minum. Kita tentu pernah mendengar kisah seorang sufi yang berhari-hari berjalan tanpa makan minum namun tetap hidup, atau seorang petapa yang dalam heningnya mampu bertahan hingga sekian bulan tanpa asupan makanan dan minuman. Hal ini cukup menjadi alasan bahwasanya kita memiliki energi yang tiada batas yang sebenarnya kita tidak mampu menggambarkanya.
Jiwa yang sadar akan adanya energy yang terkandung dalam diri, selalu berupaya menggunakan energy itu sebaik-baik mungkin. Orang yang tidak menguasai seni ini akan mengawali ibadahnya dengan keluhan-keluhan, complain, keterbatasan-keterbatasan, dan alasan-alasan yang beragam. Padahal hal ini adalah sesuatu yang tidak perlu, yang mana termasuk buang-buang energi bahkan menyia-nyiakan energi untuk sesuatu yang tidak perlu. Pengamal yang berjiwa seni yang tinggi selalu mengawali mujahadah dengan energi yang besar, dengan harapan-harapan yang besar, dengan cita-cita yang besar, dengan mencurahkan seluruh jiwa raga kepada Alloh SWT.
Setiap kali manusia mencoba mendekat kepada Alloh, mereka akan menemukan jiwa seni mereka dalam beribadah. Ketika seseorang mampu menemukan jiwa seni mereka, saat itulah seseorang tersebut dikatakan sebagai orang yang selesai dengan dirinya. Artinya orang tersebut mampu menempatkan diriNya sebagai hamba Alloh yang kaffah, sehingga mampu membagi prioritas sisa hidupnya di Jalan Allah baik hubunganya dengan manusia maupun dengan Alloh sendiri.

2 Replies to “The Art of Starting to Mujahadah (Seni Mengawali Mujahadah)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.