Sekilas Tentang Pondok Pesantren Kedunglo Kediri

Biografi Muallif Sholawat Wahidiyah Ra : Sekilas Tentang Pondok Pesantren Kedunglo Kediri

Pondok Pesantren Kedunglo, merupakan tempat muallif dilahirkan, dibesarkan, dan di tempat inilah beliau dimakamkan. Oleh sebab itu penulis merasa perlu menyajikan sejarah pesantren meskipun hanya sekilas saja, dengan harapan dapat memberikan gambaran bagaimana lingkungan yang mengitari keberadaan muallif.

Secara geografis, Pondok Pesantren Kedunglo terletak di Desa Bandar Kecamatan Mojoroto Kotamadya Kediri.[1] Pada awalnya, kampung ini hanyalah dihuni oleh satu keluarga besar yaitu keluarga pesantren Kedunglo sendiri yang pertamakali membabat (membuka) daerah ini.Menurut ceritanya, dahulu di tempat ini terdapat sebuah kedung dan di atasnya tumbuh sebuah pohon Elo. Sehingga dari situlah timbul istilah Kedunglo yang kemudian dijadikan nama dusun dan nama pesantren. Beberapa versi lain menceritakan bahwa istilah Kedunglo itu merupakan isyarat bahwa daerah ini merupakan tempat berkumpulnya air mata atau istilah jawanya Kedung Eluh. Versi kedua ini menurut penulis sangatlah lemah baik dari sisi periwayatan dan penafsirannya.[2]

Pondok Kedunglo ini terletak (+ 800 m) arah tenggara Alun-alun Kota Kediri yang dipisahkan oleh Sungai Brantas yang cukup luas. Terdapat dua jembatan penghubung yang menghubungkan antara Pondok Kedunglo dan pusat kota Kediri (Jl. Dhoho) sehingga jalur transportasi ke Kedunglo s;mgat mudah ditempuh. Dahulu, transportasi termudah adalah dengan naik perahu dari belakang Masjid Jami’ atau dari belakang Klenteng langsung ke belakang Pondok Kedunglo.

Menurut catatan sejarah, Pondok Kedunglo didirikan oleh KH. Mohammad Ma’roef pada tahun 1902 M. dan memiliki santri sebanyak 40 orang. Tujuan utama yang dicanangkan oleh KH.Mohammad Ma’roef adalah untuk menyelenggarakan pendidikan agama ala pesantren salafiyah, sehingga pada masa ituPondok Kedunglo sebagaimana pondok-pondok lain, hanya saja Pondok Kedunglo lebih dikenal dalam hal olah kanuragan dan kedigdayaannya.

Seperti lazimnya pesantren besar di Kediri, Pondok Kedunglo mempunyai hubungan kekerabatan yang cukup dekat dengan pesantren seperti Lirboyo dan Jampes, yang kesemuanya bertemu pada satu asal keturunan yaitu KH. Zainal Abidin dari Banjar Melati. Menurut berbagai keterangan yang penulis himpun, Pesantren Banjar Melati merupakan pesantren tertua dan sekaligus cikal bakal pesantren di Kediri.


[1] Nama Kediri berasal dari dua suku kata, yaitu Kedi dan Diri. “KEDI” berarti Suci atau Wadad, sedangkan “DIRI” berarti Adeg, Angdhiri, menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan). Kediri merupakan daerah yang memiliki sejarah masa lalu gemilang. Bahkan Kediri di masa lalu adalah daerah penting dalam konstelasi nusantara karena menjadi salah satu pusat di antara kerajaan-kerajaan nusantara. Kediri juga menjadi salah satu daerah yang menjadi saksi bagi kebangkitan dan kehancuran kerajaan-kerajaan di nusantara yang memang silih berganti timbul tenggelam mewarnai lembaran sejarah kehidupan bangsa besar nusantara ini. Khusus bagi Jawa Timur, Kediri di masa silam merupakan daerah yang bisa dikatakan cikal bakal lahirnya kerajaan-kerajaan besar sekaligus menjadi payung bagi daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Sejarah selengkapnya tentang Kediri dapat dilihat dalam

http://www.kedirikab.go.id

juga http://www.kedirikota.go.id

[2] Untuk Sejarah Kedunglo Lihat Imam Bawani, Pondok Pesantren Kedunglo : Pusat Sholawat Wahidiyah, Jakarta : Balitbang Depag RI. 1981