Sejarah Kelahiran, Masa Kecil, Masa Remaja, dan Silsilah Keluarga Muallif Sholawat Wahidiyah RA.

Muallif Sholawat Wahidiyah PSW Jateng_penyiar Sholawat wahidiyah

Sejarah Kelahiran, Masa Kecil, Masa Remaja, dan Silsilah Keluarga Muallif Sholawat Wahidiyah RA.

Beliau muallif  Sholawat Wahidiyah, KH. Abdoel Madjid Ma’roef dilahirkan dalam tradisi keagamaan yang kental, di Pondok Pesantren Kedunglo Kediri pada hari Kamis malam Jum’at Wage tanggal 6 Oktober 1916 M.[1] Diwioskan (dilahirkan) dari keturunan/benih yang suci dan melalui rahim yang terjaga merupakan bukti awal keberadaannya. Beliau adalah putera ketujuh KH. Mohammad Ma’roef, seorang yang alim dan terkenal dengan kewaliannya, pendiri dan pengasuh Pesantren Kedunglo Kediri. Sedangkan ibunya Sayyidah Siti Hasanah adalah putri Kyai Sholeh Banjar Melati. Berikut silsilah muallifdari garis keturunan Ayah.[2]

Nasab dari jalur ayahnya adalah:

  1. Nabi Muhammad SAW
  2. Sayyidah Fatimah
  3. Sayyid Hasan
  4. Sayyid Abdulloh Al-Shadiq
  5. Sayyid Alwi
  6. Sayyid Muhammad Abdulloh
  7. Sayyid Ahmad Abdulloh
  8. Sayyid Hafidz Al-Bas
  9. Sayyid Ali Rahmad Abdulloh
  10. Sayyid Umar Abu Hasan
  11. Sayyid Usman Karim
  12. Sayyid Ali Shadiq Abdulloh
  13. Sayyid Alawi Abdulloh
  14. Sayyid Abdulloh Alawi
  15. Sayyid Malik Musthofa
  16. Sayyid Abdurrahman Karim
  17. Sayyid Ghozali Al-Bas
  18. Sayyid Abdulloh Ghozali
  19. Sayyid Abdulloh Al-Aziz
  20. Sayyid Ihsan Nawawi
  21. Sayyid Hanafi Musa
  22. Sayyid Abdulloh Al-Malik
  23. Sayyid Zainuddin
  24. Sayyid Abdulloh Musa
  25. Sayyid Abdurrahman
  26. Sayyid Syafi’i
  27. Sayyid Sholeh
  28. Sayyid Abdur Rozaq
  29. Sayyid Syafi’i
  30. Sayyid Abdul Madjid (Badal Kediri)
  31. Sayyid Mohammad Ma’roef
  32. Sayyid Abdoel Madjid Ma’roef

Sedangkan nasab dari jalur ibunya adalah :

  1. Sayyidina Muhammad SAW.
  2. Sayyidatina Fatimah
  3. Sayyid Husain
  4. Sayyid Ali Zainal Abidin
  5. Sayyid Ilyas Muhammad Al-Baqir
  6. Sayyid Ja’far Shodiq
  7. Sayyid Ali al-‘Aridh
  8. Sayyid an-Naqib Ar-Rum
  9. Sayyid ‘Isa al-Bashri
  10. Sayyid Ahmad al-Muhajir
  11. Sayyid Abdulloh
  12.  Sayyid Alawi
  13. Sayyid Muhammad
  14. Sayyid Alawi
  15. Sayyid Muhammad
  16. Sayyid Alawi
  17. Sayyid Amir Abdul Malik
  18. Sayyid Abdulloh Khan
  19. Sayyid Jamaluddin Husain
  20. Sayyid Maulana Ishaq
  21. Sayyid ‘Ainul Yaqin
  22. Sayyid Pangeran Keroso
  23. Sayyid Abdulloh
  24. Sayyid Ali Yasin
  25. Sayyid Abdul Mursyid
  26. Sayyid Abdur Rahman
  27. Sayyid Basyaruddin
  28. Kyai Abna’ (Banjar Melati)
  29. Sayyid Ali Ma’lum
  30. Sayyid Zainal ‘Abidin
  31. Nyai Rofi’ah
  32. Kyai Sholih
  33. Nyai Hasanah
  34. Sayyid Abdoel Madjid Ma’roef

Muallif merupakan putra ketujuh dari sepuluh bersaudara, yaitu: Ny. Musta’inah, Agus Muhammad Sayyid Yasin, Ny. Siti Aminah, Ny. Siti Saroh, Ny. Siti Asiyah, Ny. Siti Romlah, KH. Abdoel Madjid, K. Abdul Malik, Ny Siti Fatimah dan Ny Siti Maimunah.[3]

Muallif merupakan anak kesayangan orang tuanya, dan ini dapat diketahui berdasarkan berbagai informasi yang menyebutkan bahwa KH.Mohammad Ma’roef selalu meminta kepada semua tamu[4] yang berkunjung ke Pesantren Kedunglo untuk mendoakan putranya tersebut lebih dari yang lain.[5]

Ketika berusia dua tahun, muallif dibawa ke Arab Saudi untuk ibadah haji oleh kedua orang tuanya. Di Mekkah, KH. Mohammad Ma’roef selalu menggendong beliau ke Baitulloh dan berdoa agar anak laki-laki yang berada dalam gendongannya kelak menjadi orang besar. Hal tersebut juga beliau lakukan di tempat-tempat mustajabah lainnya. Konon selama berada di Mekkah, beliau juga dikhitan disana dan hendak diambil anak oleh salah seorang ulama Arab. Permohonan ini disetujui oleh KH. Mohammad Ma’roef, tetapi Nyai Hasanah keberatan sehingga beliaupun tetap dalam asuhan kedua orang tuanya.[6] Dikisahkan juga, sewaktu di Makkah KH. Mohammad Ma’roef mendapat isyarah bahwa kelak keturunannya (muallif) akan mewamai dunia. Ketika hal ini dikonfirmasi kepada muallif beliau menjelaskan bahwa mungkin yang dimaksud isyarah tersebut adalah Wahidiyah.[7]

Sepulang dari Mekkah, muncul kebiasaan unik pada diri beliau. Beliau yang masih dalam usia tiga tahun (balita), hampir disetiap kesempatan berkata, “Qui dhawuha siro Muhammad” sambil meletakkan kedua tangannya diatas kepala. Kebiasaan semacam itu terus berlangsung hingga beliau memasuki usia tujuh tahun.

Sejak kecil muallif dikenal sebagai anak yang pendiam, namun beliau menggemari permainan yangmemiliki nilai kekompakan dan kebersamaan. Ini menunjukkan bahwa walupun pendiam muallif adalah pribadi yang suka silaturrahmi, berkumpul dan berorganisasi semenjak beliau masih kecil.

Muallif sejak dini diajarkan dan dididik untuk mencintai agama khususnya sholawatoleh kedua orang tuanya. KH. Mohammad Ma’roef mengajarkan kepada muallif untuk membaca sholawat setidak-tidaknya 100 kali dalam sehari, dan meningkat 1000 kali ketika ia menginjak usia baligh (+ usia 15 tahun).[8] Bahkan semakin hari, bacaan sholawat beliau semakin banyak dan meningkat.

Usia remaja muallif dipenuhi dengan aktifitas yang begitu padat. Mulai dari pendidikan, keorganisasian, bahkan perjuangan kemerdekaan R.I. tanpa meninggalkan kebiasaannya membaca sholawat.Bahkan menurut beberapa sumber, muallif rutin membaca sholawat nariyah sebanyak 4444 kali yang hanya ditempuh dalam waktu 1 jam.

Pendidikan muallif dimulai dari kedua orang tuanya, dan barulah setelah menyelesaikan pendidikan formal di HIS (Hollandsch Inlandsche School), beliau melanjutkan pendidikan agamanya ke berbagai pesantren.

Menurut catatan penulis, pesantren yang pertama kali disinggahinya adalah Pesantren Jamsaren di Solo yang diasuh oleh Kyai Abu Amar. Di pesantren ini, muallif hanya nyantri selama beberapa hari,[9] karena pengasuh pesantren pada saat itu menyuruh beliau kembali ke Kedunglo “Sampun Gus panjenengan kundur!”, sambil dititipi surat agar disampaikan kepada ayahnya.

Sepulang dari Jamsaren, beliau kemudian mondok di Mojosari Loceret Nganjuk, sebuah pesantren yang pada saat itu terkenal akan kealiman pengasuhnya yaitu Kyai Zainuddin. Namun setelah beberapa hari tinggal, beliau dipanggil Kyai Zainudin dan disuruh kembali ke Kedunglo untuk belajar sendiri dengan KH. Mohammad Ma’roef. “Sampun Gus, panjenengan kondor mawon. llmu wonten ngriki sampun telas, sampun mboten wonten ingkang saged kawulo paringaken. Panjenengan ngaos kemawon wonten romo panjenengan, Kiai Ma’roef, beliau langkung ‘alim dibandingaken kawulo. Gus sampeyan sampun cukup, mboten usah mondok kundor mawon, wonten dalem kemawon” (Sudah Gus, kamu pulang saja. llmu yang ada di sini sudah habis, sudah tidak ada lagi yang dapat saya berikan. Kamu belajar saja kepada ayahmu, KH. Ma’roef, dia lebih mengetahui agama dibandingkan saya). Beliau pun kembali pulang ke Kediri dan matur kepada ayahnya kalau gurunya tidak bersedia memberinya pelajaran.

Muallif kemudian melanjutkan pendidikan keagamaannya (ngaji) kepada ayahnya KH. Mohammad Ma’roef, dan hanya sesekali waktu pada bulan Ramadhan beliau mengikuti pondok/asrama Ramadhan, diantaranya di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari dan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang diasuh oleh KH. Abdul Manaf. Karena itulah bagi muallif, mbah Ma’roef adalah syaikhul waalid, yakni guru sekaligus orangtua beliau.[10]

Penting dikemukakan, bahwa disamping bimbingan kedua orang tuanya, muallif banyak menimba ilmu dari kakak perempuannya, yakni Nyai Romlah. Dialah yang senantiasa meluangkan waktunya dalam mendampingi muallif belajar. Dalam pembelajaran, muallif melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan hampir tidak pernah menonjolkan hasil belajarnya di depan seseorang terlebih-lebih di hadapan masyarakat umum.[11] Berikut dawuh muallif terkait tentang pendidikan pesantrennya:

“Kulo mboten natos mondok, Inggih natos dateng Mojosari-Nganjuk. Nanging kalian Kyai Zainuddin didhawuhi “Gus panjenengan kundur kemawon, wonten dalem mawon Lajeng kulo wangsul.Boten dangu kulo lajeng mondok dateng Lirboyo, Wonten Lirboyo kulo boten kraos. Kulo lajeng wangsul. Inggih puniko.Nggih mugi-mugi manfaat kemawon.”

“Saya tidak pernah belajar di pesantren, Ya pernah ke Mojosari- Nganjuk. Namun Kyai Zainuddin (pengasuh pesantren) berkata kepada saya :”Gus kamu pulang saja, di rumah saja. Tidak lama saya ke pesantren Lirboyo. Di Lirboyo saya tidak betah (krasan, Jawa) lalu saya pulang. Yah, sampai sekarang ini. Ya mudah-mudahan bermanfaat saja.”

Tercatat kisah menarik saat muallif muda mendapat mandat untuk menggantikan KH. Mohammad Ma’roef mengikuti forum musyawarah para Kyai. Forum ini sekarang biasa disebut forum bahtsul masa’il/forum yang membahas pcrmasalahan sosial keagamaan- pen. Dalam forum tersebut terdapat masalah yang cukup pelik dan komplek, sehingga sempat membuat peserta forum kesulitan mencari rujukan dan membuat keputusan hukum/fikih. Dalam keheningan tersebut tiba-tiba salah seorang kyai meminta uraian dan pendapat muallif muda. Maka muallif-pun menjelaskan bagaimana duduk permasalahan serta memberikan gambaran solusi terkait diskusi/musyawarah itu. Spontan para peserta musyawarah terkagum-kagum dengan kecakapan dan kekuatan hujjah hukum yang disampaikan muallif. Berawal dari itulah muallij-pun disegani dan banyak menuai pujian, dan sejak itulah kedalaman dan keluasan ilmu muallif khususnya di bidang fikih diketahui oleh para ulama.[12]

Setelah pulang dari pesantren dan menetap di Kedunglo, muallif terlibat aktif dalam gerakan pemuda Anshor. Sebagai putra kyai terpandang, muallif muda sering mendampingi para kyai sepuh dalam pertemuan-pertemuan yang membahas berbagai masalah sosial, keagamaan dan masalah perjuangan kemerdekaan R.I. Misalnya pertemuan di Bandar Kidul Kediri yang kemudian menghasilkan keputusan untuk mengirim para pemuda Kediri mengikuti pelatihan militer di Jawa Barat. Muallif muda juga gemar berolah raga khususnya sepak bola. Jadi meskipun beliau telihat sangat pendiam dan nampak kurang pergaulan, tetapi kenyataannya beliau adalah seorang yangluwes dalam pergaulan.[13]

Keaktifan Muallif di organisasi terus berlanjut meski beliau sudah menikah. Beliau pernah menjabat sebagai Pimpinan Syuriah NU Kec. Mojoroto tahun 1948 dan Syuriah NU cabang Kodya Kediri. Namun setelah beliau muallif  Sholawat Wahidiyah dan ajarannya tahun 1963 beliau tidak lagi aktif di organisasi tersebut.[14]

Pada tahun 1970 Muallif menunaikan ibadah haji, dan sekembalinya dari tanah suci, beliau menyampaikan bahwa Sholawat Wahidiyah telah disowankan kepada shohibul sholawat.

Muallif praktis menjadi pengasuh Pondok Kedunglo pada tahun setelah wafatnya KH. Mohammad Ma’roef. Dalam masa kepengasuhannya, Pondok Kedunglo berkembang pesat. Pondok Kedunglo sangat terkenal terutama dibidang pencak silatnya. Pada masa itu terjadi persaingan yang cukup ketat antara pesantren-pesantren di Kediri dengan pesantren Lemkari (sekarang LDII).[15]

Setelah lahirnya Sholawat Wahidiyah, mualliftidak lagi mengajar kitab-kitab diniyah namun hanya membacakan kitab al-Hikam untuk pengajian umum. Pada mulanya pengajian ini diadakan pada hari Rabu tetapi hanya sedikit dari masyarakat sekitar saja yang mengikuti. Kemudian pengajian itu di pindah di hari Jum’at dan mulai bertambah banyak yang mengikuti. Pada saat itu ada yang mengusulkan supaya pengajian itu di adakan pada hari Minggu sehingga para pegawai bisa mengikuti. Usui tersebut diterima oleh beliau dan berlangsung sampai menjelang beliau wafat. Disamping itu beliau juga meluangkan waktu pada setiap hari Selasa untuk mengkajikan dengan mbah Mundzir, dan beliau tidak merasa keberatan dengan hal ini. Meskipun mualliftidak ikut mengajarkan kitab diniyah pondok, tetapi beliau gemarmathla’ah. Bahkan saat matla’ah beliau seakan lupa dengan kegiatan lain, seperti makan dan tidur, walaupun hanya untuk istirahat sejenak. Maka tidak diragukan lagi bahwa beliau menjadi seorang ulama’ besar yang mumpuni segala bentuk disiplin ilmu, terutama tentang ilmu syari’at.[16]


[1] Penentuan tanggal oleh penulis berdasarkan perkiraan terdekat dengan hari el.in huhm scrta tahun kelahiran muallif. Hal ini dilakukan karena terdapat beberapa perbedaan dari data yang terkumpul. Misalnya Kartu Tanda Penduduk muallif, Surat Nikah muallif, dan referensi-referensi lain.

[2] Terkait Nasab muallif terdapat beberapa silsilah yang berbeda antara satu dengan yang lain. Silsilah yang penulis kemukakan tersebut bersumber dari keluarga Beliau di Banjar Melati, yang menurut keterangan merupakan titipan KH. Mohammad Ma’roef R.A. ketika beliau masih hidup. Silsilah Iain berasal dari paman muallif KH. Mundzir Ma’unahsari Kediri. Berikut silsilah dari sang ayah: Kyai Sayyid Mohammad Ma’roef bin Kyai Sayyid Abdul Majid bin Kyai Sayyid Syafi’i bin Kyai Sayyid Abdur Rozaq bin Kyai Sayyid Sholeh bin Kyai Sayyid Syafi’i bin Sayyid Abdur Rohman bin Abdulloh Musa bin Sayyid Zainuddin bin Sayyid Abdul Malik Karim bin Sayyid Haqdhy al-Nas Musa bin Sayyid Ahsan Nawawi bin Sayyid Abdul ‘Aziz Abdulloh bin Sayyid Abdulloh Ghozaly bin Kyai Sayyid Ghozali Ilyas bin Kyai Sayyid Abdul Rahman Karim bin Sayyid Malik Mustofa bin Sayyid Abdulloh Alwi bin Sayyid Alwi Abdulloh bin Sayyid Ali Shodiq bin Sayyid Utsman Karim bin Sayyid Umar Abu Hasan bin Sayyid Ali Rahmat Abdulloh bin Sayyid Hafidh Ilyas bin Sayyid Ahmad Abdulloh bin Sayyid Abdulloh bin Sayyid Alwi bin Sayyid Abdulloh Bin Sayyidina Hasan bin Sayyidatina Fatimah binti Rosululloh SAW.

Sedangkan dari garis keturunan ibu, KH. Abdoel Madjid merupakan putra dari Nyai Hasanah, binti Kyai Sholeh, bin Nyai Rofiah, binti Kyai Zainuddin, bin Kyai Ali Ma’lum, bin Kyai Banjar Melati, bin Kyai Yasaruddin, bin Kyai Abdur Rahman, bin Kyai Abdulloh, bin Kyai Ali Yasin, bin Kyai Abdulloh, Raden Keroso, bin Sunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin, bin Sunan Maulana Ishaq Malaka, Sayyid Malik, Sayyid Maqdum Ibrahim, Sayyid Jamaluddin Akbar, Sayyid Jalaluddin Syah. Sayyid Abdul Mulk, Sayyid Alwi Al-Hadhromi, Sayyid Muhammad Sholnb Al-Murobi, Sayyid Alwi Khali’ Qosim, Sayyid Alwi, Sayyid Muhammad, Sayyid Alwi, Saayid Abdulloh, Sayyid Ahmad Muhajir, Sayyid ‘Isa Bashry, Sayid Naqib al Rum, Sayyid Ali Ridlo al-Araby, Sayyid Ja’far Shodiq, Sayyid Muhammad Baqir, Sayyid Ali Zainul Abidin, Sayyid Husain, bin Sayyidatina Fatimah binti Rosululloh SAW. Jalur silsilah di alas penulis peroleh dari catatan KH. Ihsan Mahin PA Rejoagung Ngoro Jombang

[3] Hasil wawancara dengan keluarga muallif secara terpisah antara lain dengan Nyai Hj. Tatiek Farihah dan KH. Abdoel Hamid Madjid.

[4] KH.Mohammad Ma’roef dikenal memiliki pergaulan yang luas, baik dengan ulama Indonesia maupun ulama luar negeri, termasuk ulama Timur Tengah. Bahkan menurut keterangan beberapa sumber, KH. Mohammad Ma’roef pernah bermukim di Makkah dan sempat menjadi imam Masjidil Haram; Informasi diolah dari berbagai sumber

[5] Kalimat permohonan doa yang sering diucapkan oleh KH. Mohammad Ma’roef adalah “ini ndoro (sambil menunjukkan muallif) anak saya, do’akan agar menjadi anak yang shaleh hatinya”, dan para tamupun mendoakannya. Hikayah ini berdasarkan beberapa penuturan yang berhasil penulis kumpulkan. lihat juga Vety Arofah, 50 Kisah dan Petuah, Pustaka Aham Edisi 3. Kedunglo Kediri. tt. h. 9

[6] Cerita penolakan Nyai Hasanah terhadap permintaan ulama Makkah ini memunculkan sebuah ungkapan “Kalau bukan karena Kyai Madjid maka Sholawat Wahidiyah tidak akan lahir, dan kalau bukan karena Nyai Hasanah Sholawat Wahidiyah tidak akan lahir di bumi Kedunglo”. ‘Ilasil wawancara dengan muallif. Dokumen diperoleh dari DPP PSW dan tidak dipublikasikan.

[7] Hasil wawancara dengan Muallif. Dokumen diperoleh dari DPP PSW dan tidak dipublikasikan.

[8] Diolah penulis dari berbagai Sumber.

[9] Terdapat perbedaan tentang Masa.

[10] Keterangan diolah dari berbagi sumber, antara lain KH. Abdoel Hamid Madjid, Nyai Hj. Tatiek Farihah, KH. Ibnu Alwan Jombang, KH. Rulian Sanusi, dan KH. Ahmad Masruh Jombang.

[11] Informasi diperoleh berdasarkan keteramham dari kerabat dekat Muallif.

[12] Dikisahkan oleh Gus Hasan dan beberapa Alumni Kedunglo Asuhan KH. Mohammad Ma’roef serta sesuai dengan beberapa riwayat lain.

[13] Dcskripsi ini penulis simpulkan berdasarkan keterangan dari berbagai sumber dengan redaksi berbeda, namun pada prinsipnya memiliki kesamaan mukna.

[14] Diolah dan disarikan dari beberapa Sumber.

[15] Lihat Imam Bawani, Pondok Pesantren Kedunglo : Pusat Sholawat Wahidiyah, Jakarta : Balitbang Depag RI. 1981.

[16] Keterangan dari KH. Moh. Ruhan Sanusi.