Musuh-Musuh Sunah

Pada suatu hari Umar Ibnul Khotob ra berkhotbah di atas mimbar dengan ucapannya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengutamakan pendapatnya sendiri (mendahulukan pertimbangan akan pikirannya sendiri) adalah musuh-musuh sunah.

Hal ini terjadi karena kesulitan mereka untuk mengenal dan menghafal hadist-hadist, sehingga mereka berfatwa dengan menggunakana pendapat mereka sendiri. Maka mereka sesat dan menyesatkan orang lain.

Sesungguhnya kita mengikuti dan tidak memaulai, dan kita menuruti (mematuhi) dan tidak membuat perkara baru (bid’ah), dan kita tidak akan sesat selama kita berpegang teguh kepada Atsar (sunah-sunah nabi SAW dan para sahabatnya).

 

Ungkapan Beliau Umar Ibnul Khotob ini sangat menarik sekali untuk dikaji dan direnungkan kemabli dalam situasi sekarang ini. Sebab ungkapan itu bukan hanya sekedar sebuah perkiraaan atau persangkaan akan terjadinya sebuah penyimpangan terhadap sunah. Lebih dari itu adalah sebuah  kenyataan bahwa dalam masa itu muali bermunculan para munafiqin yang sengaja ingin menghancurkan tatanan dan tuntunan Beliau SAW sebagai landasan beragama.

Kekhawatiran Beliau Sayyidina Umar Ibnul Khotob itu bukan tanpa alasan. Sebab sejak muali Beliau ra diangkat kholifah, mulai bermunculan orang-orang yang sengaja ingin menyelewengkan sunah Beliau SAW. Padahal dimasa itu –kalau merujuk pada hadist Nabi SAW- adalah kurun (masa) ungkapan tersebut muncul ditengah-tengah kurun yang oleh Nabi SAW masih dianggap sebaik-baik kurun, dengan ungkapan Beliau SAW :

خير الناس قرنى ثم الثانى ثم الثالث ثم يجئ قوم لا خير فيهم (رواه الطبرانى عن ابن مسعود

“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian di masa para Shohabat, kemudian di masa Tabi’in, kemudian datang kaum yang tidak ada kebaikan di dalamnya”.

 

Kalau di masa Sayyidina Umar Ibnu Khotob saja yang termasuk sebaik-baik kurun sudah dikhawatirkan akan munculnya musuh-musuh sunah…..Lalu bagaimana di masa sekarang ini (menurut hadist) termasuk masa yang yang tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya…….?, mungkin jadi kaum (umat) yang hidup dimasa sekarang ini bukan hanya sekedar sebagai musuh sunah, namun sudah menjadi dedengkot dan rajanya musuh sunah….?. lho kok ….!. Kita sering mengkalim sebagai golongan atau kelompok yang paling ahli sunah atau ahli sunag wal jama’ah, yang lain kita anggap bid’ah. namun pada kenyataannya kita sendiri tidak faham bahkan sudah menyimpang jauh dari tuntunan dan ajaran ahli sunah wal jama’ah; lebih-lebih dalam bidang akhlak dan akidah. Dalam hidup dan kehidupan kita ternyata  sudah tidak berorientasi atau berlandaskan pada  akhlak dan akidah Beliau SAW dan para sahabatnya. Islam tidak melarang bagi seseorang untuk berusaha menjadi pengusaha sukses dan pedagang kaya. Beliau SAW tidak mengharamkan berpolitik untuk mengatur negara. Namun semua itu bukan harus ditempuh dengan menghalalkan segala macam cara. Cara kita hidup dan mencari kehidupan sudah sangat menjijikkan dan memalukan dihadapan Alloh dan Rosul-Nya. Perangai srigala sudah sangat melekat pada jiwa kita. Menerkam dan memangsa siapa saja yang menghalangi tujuan kita. Tidak jarang pula kita sering berbulu domba untuk mengharumkan kebusukan tujuan-tujuan kita, yang tidak lain hanya untuk memenuhi WC yang ada di belakang rumah kita.

 

dikalangan ummat Islam mulai tampak terjadinya perselisihan, meskipun hanya timbul dari beberapa orang yang tidak setuju atas pengangkatan Beliau ra sebagai Kholifah. Perselisihan demi perselisihan baru benar-benar mulai tampak ketika ke-kholofahan dijabat oleh Sayyidina ustman ra. Bahkan kejadian itu semakin parah dan memprihatinkan ketika ke-kholifahan dipegang oleh Sayyidina Ali ra. Dengan semakin meluasnya perselisihan, terjadilah perpecahan hingga terbentuknya beberapa kelompok dan golongan yang semuanya saling berebut pengaruh mengajak masyarakat untuk mengikuti pendapat dan madzab mereka masing-masing. Akhirnya masyarakatpun terpecah-pecah ke dalam banyak golongan. Dari siniah muncul pula satu golongan yang bernama “Ahli Sunah Wal Jama’ah”, yaitu golongannya orang-orang yang senantiasa menegakkan sunah dan perilaku para sahabat dalam bidang akidah keagamaan dan amal perbuatan badaniyah maupun akhlak qolbiyah.