Mujahadah Rubu’ussanah Penyiar Sholawat Wahidiyah

Dalam Islam Kata Mujahadah tidak asing didengan oleh orang Islam  khususnya dan manusia pada umumnya atau Jami’ Al Alamin. Kata yang sangat singkat dan sederhana ini mengandung makna dan pengaruh yang luar biasa.  Asy-Syekh Dhiyauddin Ahmad Mushtofa Al-Kamsyakhonawy An-Naqsyabandy,[1] hal 221 berpendapat bahwa Mujahadah menurut bahasa adalah perang, menurut aturan syara’ adalah perang melawan musuh-musuh Alloh, dan menurut istilah ahli hakikat adalah memerangi nafsu amarah bissuu’[2] dan memberi beban kepadanya untuk melakukan sesuatu  yang berat baginya yang sesuai dengan aturan syara’ (agama). Sebagian Ulama’ mengatakan: “Mujahadah adalah tidak menuruti kehendak nafsu”, dan ada lagi yang mengatakan: “Mujahadah adalah menahan nafsu dari kesenangannya.

Sebagian dari pecinta Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam yakni para Pengamal[3] Sholawat Wahidiyah yang selalu melantunkan baik dalam hati maupun lesan dalam situasi yang bagaimanapun juga, sebagaimana yang telah dibimbingkan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah. Kata Mujahadah di dalam  Wahidiyah  bahwa  “Mujahadah” adalah bersungguh-sungguh memerangi dan menunduk-kan hawa nafsu (nafsu ammarah bis-suu’) untuk diarah-kan kepada kesadaran “FAFIRRUU ILALLOOH WAROSUULIHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM”.

Dengan landasan Al Qur’an, Al Hadist, dan Pendapat para Ulama’, merupakan landasan atau dasar Mujahadah, sebagaimana dalam Al Qur’an Surat  ke-5  Al Maaidah ayat 35,  Surat ke-22  al-Hajj  ayat 78, Hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Jabir[4], Hadist Riwayat At-Thabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Fadlolah bin ‘Ubaid[5]  dan Pendapat Hujjatul Islam Imam Ghozali[6].

Untuk merealisasikan Mujahadah, Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah membimbingkan salah satunya Kegiatan Mujahadah Rubu’ussanah. Salah satu kegiatan bersama yang dilakuakn oleh Masyarakat se Kabupaten/Kota setiap 3 bulan sekali.

Dalam Buku Tuntunan Mujahadah dan Acara-Acara Wahidiyah telah diutarakan bahwa :

  1. Mujahadah Rubu’ussanah adalah Mujahadah Wahidiyah yang dilaksanakan secara berjama’ah setiap 3 bulan sekali.
  2. Penyelenggara dan penanggungjawabnya adalah DPC PSW dan dapat menunjuk/membentuk Panitia Pelaksana.
  3. Penyelenggara Mujahadah Rubu’ussanah harus memberitahukan secara tertulis kepada MUSPIDA, DPW PSW setempat dan DPP PSW.
  4. Mujahadah Rubu’ussanah dilaksanakan dalam bentuk seremonial (Acara Wahidiyah) dengan tema disesuaikan situasi dan kondisi saat itu.
  5. Mujahadah Rubu’ussanah diikuti secara bersama-sama oleh Pengamal Wahidiyah se kabupaten/ Sayogjanya mengundang pengamal/ Penyiar Sholawat Wahidiyah kabupaten/kota terdekat, simpatisan, pejabat pemerintah, dan tokoh-tokoh agama/masyarakat.
  6. Badan Pembina Wanita, Pembina Remaja & Mahasiswa, dan Pembina Kanak-kanak, boleh melaksanakan Rubu’ussanah sendiri-sendiri, tetapi harus dengan sepengetahuan/persetujuan DPC PSW, dan bisa dilaksanakan bersama-sama dengan penanggung jawab acara bergantian.
  7. Biaya pelaksanaan Mujahadah Rubu’ussanah menjadi tanggung jawab bersama seluruh Pengamal Wahidiyah se-kabupaten/kota dengan pengedaran Lis Khusus/Umum atau cara-cara lain yang sah, halal, dan tidak mengikat.
  8. Untuk lebih tertibnya, DPC PSW supaya membuat jadwal Mujahadah Rubu’ussanah menyesuikan jadual waktu pelaksanaan Mujahadah yang diterbitkan oleh DPP PSW.
  9. Sebelum pelaksanaan Mujahadah Rubu’ussanah supa-ya mengadakan mujahadah penyongsongan sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan. Dilaksanakan terutama oleh Pengurus PSW Kabupaten/kota, PSW Kecamatan, PSW Desa, para imam jama’ah dan umumnya pengamal Wahidiyah se kabupaten/kota. Dan diadakan Mujahadah Khusus Nonstop sekurang-kurangnya 3 hari/3 malam sebelum pelaksanaan bertempat di lokasi/arena yang akan ditempati acara/sekitarnya ataudi jama’ah-jama’ah se daerah Kabupaten/Kota. Aurod Mujahadah penyongsongan[7] sebagai berikut :
  10. Untuk Pengamal Wahidiyahmenggunakan Aurod Mujahadah bilangan 7-17tiga kali khataman.
  11. Untuk Pengurus PSW dan Panitia menggunakan Aurod Mujahadah Peningkatan.[8]
  12. Kerangka acara dalam Mujahadah Rubu’us-sanah sama dengan acara Mujahadah Syahriyah. Hanya saja sambutan – sambutannya disesuaikan (Lihat Petunjuk Acara-Acara Wahidiyah)
  13. Bagi Pengamal Wahidiyah di kabupaten / kota tersebut jika terpaksa (karena udzur) tidak bisa hadir di arena Mujahadah Rubu’ussanah supaya melakukan mujahadah dengan bilangan 7-17 tiga kali khataman di tempat masing-masing dengan niat makmum. Jika Mujahadah Rubu’ussanah berdekatan dengan Mujahadah Nisfussanah yang bertempat di suatu DPC PSW, maka Mujahadah Rubu’ussanah tersebut dilaksanakan dengan Mujahadah serempak seperti di atas.
  14. Dari beberapa kali pelaksanaan Mujahadah Rubu’ussanah dalam satu tahun supaya disertai Up-Grade, Diklat, Panataran Wahidiyah, atau sarasehan Pengurus.
  15. Apabila karena udzur tidak bisa melaksanakan Mujahadah Rubu’ussanah dengan seremonial (Acara/Resepsi) Pengurus DPC PSW yang ber-sangkutan supaya mengadakan Gerakan Mujahadah Serempak yang dilakukan oleh seluruh Pengamal Wahidiyah se kabupaten/ kota di tempat atau jama’ah masing-masing pada saat yang ditentukan dengan Aurod Mujahadah 7-17 tiga (3) kali khataman sebagai pelaksanaan Mujahadah Rubu’ussanahnya, dengan disertai mujahadah penyongsongan seperti di atas. Dengan demikian tidak ada alasan bagi DPC PSW untuk tidak melaksanakan Mujahadah Rubu’ussanah.
  16. Bagi DPC PSW yang akan ditempati Mujahadah Nisfussanah dan waktunya berdekatan dengan pelaksanaan Mujahadah Rubu‘ussanah maka Rubu’ussanahnya supaya menggunakan cara Gerakan Mujahadah Serempak di atas.

Mujahadah Rubu’ussanah telah dijadwalkan, sebagaimana yang telah dikeluarkan oleh Badan Pembinaan Wahidiyah Pusat. Dalam Peride pertama pada tahun 1439 H ini, kegiatan mujahadah Rubu’ussanah dilaksanakan pada tanggal 22 Muharram s/d 20 Robi’ul Awal 1439 H./ 11 Oktober s/d 9 Desember 2017 M. dengan harapan para Pengamal bisa melakukan kegiatan Mujahadah Rubu’ssanah ini sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh PSW Pusat yang sudah diatur oleh Badan Pembinaan Wahidiyah Pusat.

Dengan harapan semoga kita semua menjadi Pengamal Sholawat Wahidiyah yang aktif yang selalu mengikuti Bimbingannya lahir bathin. (Mars)

[1] Asy-Syekh Dhiyauddin Ahmad Mushtofa Al-Kamsyakhonawy An-Naqsyabandy,Jami’ul-Ushul Fil-Auliya, Penerbit: Al-Haromain Singapura-Jedah-Indonesia,hal 221.

[2] Nafsu yang senantiasa memerintah/mengajak perbuatan buruk/jahat.

[3] Yang  dimaksud dengan Pengamalan Wahidiyah adalah melakukan mujahadah (bermujahadah) seperti  dimaksud ayat (4)  AD PSW  serta menerapkan Ajaran Wahidiyah seperti dimaksud ayat (2) AD PSW pasal I AD PSW, di dalam kehidupan sehari-hari.

[4] Kita baru kembali dari perang kecil akan menghadapi perang besar. Para Shahabat bertanya: Ya Rosulalloh,apakah perang besar itu? Rosululloh Sholallollohu „Alaihi Wa Sallam: “Perang melawan Nafsu”(HR. Baihaqi dari Jabir)

[5] Orang yang berjihad (bermujahadah) adalah orang yang memerangi nafsunya dalam (pendekatan dirinya kepada) Alloh. (HR At-Tirmidzi, At-Thabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dari Fadlolah bin „Ubaid).

[6] Mujahadah  adalah kunci (pintu) hidayah, tidak ada kunci hidayah selain mujahadah.(Ihya’ Ulumuddin, juz I : 39)

[7] Surat PSW Pusat No. 480/SW-XXIV/BPPWP/10/1985 tanggal 27 Oktober 1985 tentang Petunjuk Mujahadah Penyongsongan Acara-acara Wahidiyah di Daerah.

[8] SK PSW Pusat No. 05/SW-XXVI/BPPWP/F/SK/’89 tanggal 17 Agustus 1989 tentang Petunjuk Pelaksanaan SKB Badan Penyiaran dan Pembinaan Wahidiyah Pusat dan Badan-Badan Pembina Wahidiyah Pusat Nomor : 01/SW-XXVI/SKB/BPPWP-BPWP/’89 tanggal 25 Mei 1989

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.