Akhlakul Karimah dan Keteladanan : Kesederhanaan Muallif RA.

Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif RA.

K.H. Abdul Majid Ma’roef, muallif sholawat wahidiyah adalah sosok yang yang sangat sederhana dalam kehidupannya. Kesederhanaan muallif tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan tidak pernah sedikitpun mengajarkan kemewahan dan kemalasan.

Cara berpakaian muallif RA. selalu sederhana, rapi dan sopan, sering terlihat mengenakan baju takwa warna putih. Kalau pergi untuk bersilaturahmi sering mengenakan celana panjang dan baju hem yang dimasukkan. Dari cara berpakaian beliau yang sederhana tersebut menyebabkan kebanyakan tamu heran (tidak seperti umumnya para kyai besar dalam berpakaian, seperti mengenakan jubah, sorban, dll).[1]

Mengenai hubungan dengan tetangga dan masyarakat, muallif sangat ramah dan sering meluangkan waktu untuk sulaturahmi ke rumah mereka. Beliau sering jalan-jalan untuk silaturahmi, dan dalam bepergian sering naik becak, terkadang juga naik sepeda onta -sepeda Onthel-. Di samping itu, muallif juga terkadang silaturahmi ke tempat para pengamal di luar daerah, seperti Pacitan, Banten, Jakarta, dan lain sebagainya.[2] Bahkan pada silaturahmi keluar daerah yang pertama, yakni ke Pacitan, muallif hanya naik truk dan sesampainya di sana, beliau jalan kaki menuju tempat yang dituju.[3]

Terkait kesederhanaan dan kerapian muallif  terdapat kisah menarik yang terjadi di Malang. Saat itu muallif sedang menghadiri sebuah acara Wahidiyah dengan mengenakan pakaian yang rapi layaknya seorang pejabat. Dan kebetulan salah seorang penderek/pengikut muallif memakai pakaian layaknya ulama. Maka terjadilah salah paham dikalangan jama’ah yang menganggap penderek tersebut sebagai ulama dan muallif dianggap sebagai pendereknya. Melihat hal ini, muallif  tidak tersinggung apalagi marah, bahkan beliau hanya tersenyum saja.[4]

Kisah tersebut menunjukkan bahwa muallif bukanlah pribadi yang sombong dan suka menonjolkan dirinya, melainkan pribadi yang santun dan mudah bergaul dengan kesederhanaannya.

Dengan kesederhanaan yang tertanam kuat dalam jiwa, muallif  Telah menjadi sosok kepala keluarga yang sangat luar biasa. Beliau selalu menerapkan kerja sama dalam setiap pekerjaan rumah tangga. Muallif bahkan sering mencuci dan membersihkan pakaian keluarga, pakaian putra-putrinya dan pakaian siapapun yang terserak, beliau kumpulkan lalu beliau cuci. Beliau muallif RA. bila menjumpai pakaian yang kotor di rumah, maka akan langsung mencucinya dan tidak peduli pakaian itu milik siapa.Sehingga mbah Nyai paling kuatir kalau ada pakaian kotor yang berserakan dan diketahui oleh muallif RA.

Beliau sangat bersih, tidak pernah koproh dan selalu rapi. Bahkan ketika masa muda beliau selalu memakai dasi setiap menghadiri acara, (saat beliau masih menjadi anggota Anshor) meskipun pada saat itu para ulama’ mayoritas mengharamkan dasi karena dianggap menyerupai orang kafir, yakni Belanda. Selain rapi dan bersih, beliau juga senang dengan keindahan dan seni.[5]Dalam masalah ini muallif pernah mengungkapkan rumah itu hendaknya suci seperti masjid dan bersih seperti rumah sakit.

Dibidang ekonomi, Muallif juga sangat sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau dibantu mbah Nyai. Sering mbah Nyai memetik kangkung yang ada disebelah timur pondok (saat itu Pondok Pesantren Kedunglo masih dikelilingi rawa) untuk dijual ke pasar Bandar, lalu hasilnya digunakan untuk membeli berasdan tidak jarang Muallif sekeluarga hanya makan sayur kangkung saja. Terkadang beliau memetik kelapa (insyaallah ada 3 batang kelapa di sekitar rumah beliau) untuk sayur sehari-hari. Muallif  selalu membantu mbah Nyai menyelesaikanpekerjaan rumah tangga. Kalau mbah Nyai akan memasak sayur santan, terkadang muallif yang memarut kelapanya dan mbah Nyai yang membuat bumbunya. Muallif juga membantu mengasuh putra-putrinya yang masih kecil-kecil, memandikan, mendandani bahkan menyuapi.[6]

Lebih dari itu, muallif dikenal sangat dermawan. Tak jarang tamunya yang sowan dan nampak tidak punya biaya untuk pulang diberi biayamuallif. Pernah pula muallif membevi belanja kepada seorang pengamal yang tidak punya penghasilan.

Diceritakan bahwa pada suatu hari rumah muallif dimasuki pencuri, saat itu sebenarnya muallif  mengetahuinya, tapi beliau malah masuk kamar. Setelah si pencuri selesai melakukan aksinya dengan membawa barang-barang dalam balutan kain yang besar, si pencuri itupun pergi. Keesokan harinya si pencuri kembali ke rumah muallif dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya dan hendak mengembalikan barang-barang yang telah dicurinya, tapi beliau muallif malah memberikan dengan ikhlas semua barang yang telah dicuri dan memaafkan perbuatan si pencuri itu.[7]

Bukti lain dari kedermawanan dan sifat pemaaf muallif adalah pernah suatu ketika muallif bepergian dengan didampingi H.Abdul Rohim (Kepanjen Malang) dengan menggunakan kendaraan bus, ditengah perjalanan jam tangan yang dikenakan muallif dicopet orang, tapi tidak bisa, mengetahui hal tersebut H. Abdul Rohim langsung marah dan hendak memberi pelajaran pencopet tadi, namun muallif mencegahnya, bahkan muallif kemudian melepas jam tanganya kemudian memberikan kepada pencopet tersebut.[8]


[1] Keterangan diperoleh dari K. Syamsul Huda Malang. Beberapa riwayat lain menunjukkan bahwa dalam keadaan santai, muallif sering juga mengenakan kaos.

[2] Disarikan dari beberapa sumber, antara lain dari pihak kelaurga dan dari para penderek Muallif.

[3] Keterangan penulis peroleh dari hasil wawancara dengan KH. Moh. Ruhan Sanusi di Jombang

[4] Kisah ini berasal dari beberapa keterangan pengamal dari Malang yang penulis sarikan dari K. Sholihuddin Mahfudz.

[5] Dikisahkan pada saat acara pindahan di Pondok Kedunglo, dibacakan Sholawat Nariyah dan setelah itu diputarlah lagu Islami. Muallif yang mendcngar lagu Islami diputar di Pesantren, kemudian memanggil pemilik gramaphon yang digunakan untuk memutar lagu Islami tersebut. Dengan rasa ketakutan yang luar biasa, pemilik gramaphon tersebut kemudian menghadap muallif yang menanyakan apakah ada lagu lain. Sejurus kemudian Muallif-pun meminta agar diputarkan lagu yang kebetulan adalah lagu Ummi Kulsum. Muallif menjelaskan bahwa lagu itu bisa dijadikan sebagai penghantar sadar pada Alloh. Memandang sifat jamalnya Tuhan (sifat indahnya Alloh). Dikisahkan oleh KH. Mohammad Ruhan Sanusi di Jombang. Kisah ini menunjukkan bahwa muallif menyukai seni dan keindahan, yang tentunya digunakan sebagai salah satu alat sadar kepada Tuhan.

[6] Disarikan dari berbagai sumber. Melihat begitu sederhananya kehidupan muallif, suatu saat penderek beliau, yaitu KH. Ibnu Alwan pernah incnanyakan hal ini, dan muallif-pun menjelaskan hal apa yang dimaksud oleh KH. Ibnu Alwan tersebut.

[7] Disarikan dari berbagai Sumber.

[8] Diceritakan oleh K. Hasyim Adnan Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.