081-290-717-717 | Mujahadah Wahidiyah Penyongsongan Hari Raya Idul Fitri 1440 H

Mujahadah Wahidiyah Penyongsongan Hari Raya Idul Fitri 1440 H yang sebentar lagi kita laksanakan, sebelum itu kita dalami tentang mujahadah itu apa. Mujahadah menurut arti bahasa, syar’i, dan istilah ahli hakikat sebagaimana dimuat dalam kitab Jami’ul Ushul Fil-Auliya(1), hal 221 yang artinya kurang lebih :

“Arti mujahadah menurut bahasa adalah perang, menurut syara’ adalah perang melawan musuh-musuh Alloh, dan menurut istilah ahli hakikat adalah memerangi nafsu amarah bis-suu’(2) dan memberi beban kepadanya untuk melakukan sesuatu yang berat baginya yang sesuai dengan aturan syara’ (agama). Sebagian Ulama’ mengatakan : “Mujahadah adalah tidak menuruti kehendak nafsu”, dan ada lagi yang mengatakan : “Mujahadah adalah menahan nafsu dari kesenangannya”.

Adapun Mujahadah yang sering kita dengarkan di dalam kalangan para Pengamal Sholawat Wahidiyah atau orang yang mengamalkan Sholawat Wahidiyah ini, yang dimaksud “Mujahadah” adalah bersungguh-sungguh memerangi dan menundukkan hawa nafsu (nafsu ammarah bis-suu’) untuk diarahkan kepada kesadaran “Fafirruu Ilallooh Warosuulihi Wa Rosuulihii Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam”.

Dalam momen yang akan kita hadapi  sebentar lagi yakni pada Hari Raya Idul Fitri 1440 H ini, beliau Muallif Sholawat Wahidiyah KH. Abdoel Madjid Ma’roef RA. telah membibingkan atau mengajarkan kepada kita semua khususnya kepada para pecinta atau Pengamal Sholawat Wahidiyah untuk melakukan Mujahadah Penyongsongan Hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi akan datang ini.

Pada umumnya umaat islam melaksanakan persiapan-persiapan sebelum hari raya Idul Fitri ini dengan berbagai cara dan kegiatan, baik kegiatan lahir maupun bahtin. Adapun dalam Mujahadah Penyongsongan hari Raya Idul Fitri ini sebagaimana berikut :

  1. Mujahadah dengan bilangan 7-17 tiga kali kahtaman
  2. Dilaksanakan pada waktu malam hari raya Idul Fitri diantara waktu Maghrib sampai Shubuh
  3. Dilaksanakan dengan Berjama’ah (bila bisa berjama’ah)

Sebagiman yang telah diingatkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Penyiar Sholawat Wahidiyah melalui Badan Pembinaan Wahidiyah dengan Surat Anjuran Mujahadah dengan Nomor Surat : 620/A/BBW-DPP PSW-56/V/2019 yang dikeluarkan pada Tanggal 19 Mei 2019 di Jombang.

081-290-717-717 | Mujahadah Wahidiyah Penyongsongan Hari Raya Idul Fitri 1440 H

Dalam momen sebulan penuh melaksanakan Puasa Romadhon kita dihadapkan dengan hari Raya Idul Fitri utnuk senantiasa meningkat di segala bidang. Dalam hal ini pernah di sampaikan oleh Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA. KH. Abdoel Madjid Ma’roef RA. pada waktu Penutupan Aswar Atau Asrama Romadhon Wahidiyah pada tahun 1403 H atau 39 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 1 Juli 1983 M beliau berkata kurang lebih :

“Para hadirin hadirot, ini beberapa hari lagi, kita akan mengikuti hari Raya Idul Fitri. Pada hari Raya ini, nanti kesempatan baik sekali, untuk penyiaran Wahidiyah, untuk Perjuangan Fafiruuilallohi Wa Rosuulihii Sholallohu ‘Alahi Wa Sallam, hendaknya, seharusnya kesempatan yang ada, yang baik ini jangan kita sia-siakan para hadirin hadirot, mari kita manfaatkan sebanyak mungkin para hadirin hadirot, kesempatan pada hari Id nanti, hari Raya nanti. Banyak kita, ketemu diantara kita, diantara kita sama orang lain banyak disana nanti. Mari senantiasa, senantiasa mencari kesempatan untuk perjuangan Fafiruuilallohi Wa Rosuulihii Sholallohu ‘Alahi Wa Sallam, terutama kalau, terutama kita kalau disana nanti, diantara acara-acara omong-omongan dan sebagainya, mari kita senantiasa mengadakan mujahadah-mujahadah para hadirin hadirot, selama situasi mengijinkan, selama situasi mengijinkan, bahkan para hadirin hadirot, mari senantiasa mencari situasi yang mengijinkan, mengusahakan sehingga situasi itu mengijinkan, kita berkiprah berjuang Fafiruuilallohi Wa Rosuulihii Sholallohu ‘Alahi Wa Sallam  dengan semaksimal mungkin para hadirin hadirot”.

Para hadirin hadirot, terutama ya anak-anak kita, ya….. ma’af, dan mudah-mudahan seperti yang sudah-sudah, atau terutama ya,,, munkin ya tua mungkin masih lekat, yaitu anggapan mereka hari Raya ini, hanya diperuntukkan mereka yang mampu berpakaian baru, pakaian mentereng, ini kliru sekali para hadirin hadirot, yang nanti yang tepat ialah, hari raya hanya diberuntukkan mereka yang tambah, tambah Fafiruuilallohi Wa Rosuulihii Sholallohu ‘Alahi Wa Sallam, meningkat pengabdian dirinya kepada Alloh Wa Rosuulihii Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam, meningkat perbuatan baiknya untuk umat dan masyarakat, para hadirin hadirot, ya ma’af, terutama pada anak-anak kita, yang sekalipun, kami ya …. khusnudzon, tapi untuk menggaris bawahi, jangan seperti yang dulu-dulu, kita senantiasa memberakkan kepada orang tua kita, mintak ini dan itu, yang terutama orang-orang tua kita tidak mampu, jangan dipaksa-paksakan, hai anak-anak.

Para hadirin hadirot, para anak-anakku yang kami cintai, diantara menyalah gunakan dan penipu-penipu, diantara mereka sebab yang banyak yaitu, digoda oleh keluarganya para hadirin hadirot, digoda oleh keluargane, koyok mintak ini mintak itu, sehingga ati mereka gelap, lantas apa yang dihadapannya anu ….. dipegang, diambil, entah ini punyaannya siapa, ini halal atau haram, ini para hadirin hadirot, Anak-anakku, sekali lagi, budaya jangan, ya jangan terlalu memberatkan orang tua kita nanti, untuk  menghadapi hari raya nanti, ya syukur, diam aja, bila diberi ya terima kasih, tapi kalau tidak diberi ya … diam saja,ini lebih baik,  tapi kalau terpaksa mintak ya, supanya dengan keadaan, dengan suara yang baik, yang tidak ada rasa menekan kepada orang tua, inget ! para kanak-kanak, para remaja, putra dan putri yang saya sayangi.

Itulah sebagian yang telah disampaikan oleh Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah. Semoga kita sebagai penderek atau pengamal sholawat Wahidiyah diberi kemampuan oleh Alloh untuk melaksanakan apa-apa yang telah dibimbingan oleh Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah dan menjadi pengamal yang benar-benar bisa dihandalakan dan selalu sambung hubungan dengan Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah.


(1)  Jami’ul-Ushul Fil-Auliya oleh Asy-Syekh Dhiyauddin Ahmad Mushtofa Al-Kamsyakhonawy An-Naqsyabandy. Penerbit: Al-Haromain Singapura-Jedah-Indonesia

(2) Nafsu yang senantiasa memerintah / mengajak perbuatan buruk / jahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.